**Judul:**Hujan Berjam-Jam Picu Titik Rawan Banjir di Kota Makassar,Ini Penyebab dan Langkah Antisipasinya

Hujan berjam-jam membuat sejumlah titik rawan banjir di Makassar kembali muncul.Artikel ini membahas penyebab utama,area yang sering terdampak,dampak ke aktivitas warga,serta langkah antisipasi yang realistis.

Hujan yang turun berjam-jam sering kali menjadi pemicu utama munculnya genangan hingga banjir lokal di wilayah perkotaan,termasuk Kota Makassar.Ketika intensitas hujan tinggi dan durasinya panjang,air yang seharusnya cepat mengalir ke saluran drainase justru tertahan di permukaan jalan,permukiman padat,hingga area rendah yang menjadi “mangkuk” penampungan sementara.Kondisi ini tidak selalu berarti banjir besar,tetapi cukup untuk mengganggu mobilitas,merusak barang di rumah warga,dan meningkatkan risiko kecelakaan di jalan https://sekartaji.desa.id/online/.

Secara teknis,banjir perkotaan biasanya terjadi karena kombinasi tiga hal:curah hujan tinggi,kapasitas drainase yang tidak memadai,serta hambatan aliran air.Hujan berjam-jam membuat debit air terus bertambah,sementara saluran drainase punya batas kemampuan untuk menampung dan mengalirkan air.Jika saluran tersumbat sampah,tertutup sedimen,atau terhalang bangunan dan utilitas,maka air akan meluap kembali ke permukaan.Kemudian,permukaan kota yang didominasi aspal dan beton mengurangi daya resap tanah,sehingga air lebih cepat menjadi limpasan.

Di Makassar,titik rawan genangan umumnya muncul di ruas jalan dengan elevasi rendah,sekitar perlintasan yang cekung,serta kawasan permukiman padat dengan saluran kecil.Kondisi pasang air laut juga bisa memperburuk situasi di area tertentu yang berdekatan dengan pesisir atau muara,karena aliran air hujan ke laut melambat saat muka air naik.Akibatnya,genangan yang seharusnya surut cepat bisa bertahan lebih lama,terutama ketika hujan masih berlangsung atau turun kembali dalam jeda singkat.

Dampak paling cepat terasa adalah gangguan lalu lintas.Genangan di jalan utama maupun jalan penghubung membuat kendaraan melambat,menyebabkan antrean panjang,dan meningkatkan risiko mogok pada motor maupun mobil.Pengendara juga menghadapi bahaya tambahan seperti lubang jalan yang tidak terlihat,arus air kecil yang menipu kedalaman,serta permukaan licin yang memicu selip.Untuk warga di permukiman,banjir lokal bisa masuk ke halaman,teras,atau ruang dalam rumah,terutama jika rumah berada lebih rendah dari badan jalan atau tidak memiliki jalur pembuangan air yang lancar.

Dalam situasi hujan berjam-jam,hal yang sering dilupakan adalah efek lanjutan setelah air surut.Genangan membawa lumpur dan sampah yang tertinggal di selokan serta halaman,menyumbat aliran untuk hujan berikutnya.Kelembapan tinggi juga meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan,misalnya iritasi kulit,infeksi saluran pernapasan,atau keluhan pencernaan jika sumber air bersih terkontaminasi.Karena itu,respons pascagenangan sama pentingnya dengan respons saat hujan.

Antisipasi yang efektif sebaiknya dibagi menjadi langkah warga dan langkah sistemik.Dari sisi warga,ada beberapa tindakan praktis yang bisa dilakukan tanpa menunggu kondisi memburuk.Pertama,cek saluran air kecil di sekitar rumah,terutama lubang pembuangan di depan pagar,selokan lingkungan,dan jalur air menuju drainase utama.Bersihkan sumbatan ringan seperti daun,plastik,dan endapan tipis sebelum hujan datang atau saat hujan mereda.Kedua,simpan barang penting di tempat lebih tinggi,khususnya dokumen,alat elektronik,dan persediaan obat.Ketiga,siapkan perlengkapan darurat sederhana:senter,power bank,sepatu anti air,dan kantong plastik tebal untuk melindungi barang.

Untuk mobilitas,strategi paling aman adalah menghindari jalur yang terlihat tergenang dalam,meski terlihat “bisa dilewati.”Jika terpaksa melintas,utamakan keselamatan:turunkan kecepatan,jaga jarak,dan hindari sisi jalan yang berpotensi berlubang.Pengendara motor sebaiknya mempertimbangkan berhenti sejenak di tempat aman ketika arus dan genangan meningkat.Kebiasaan memaksa lewat justru sering menjadi penyebab mogok dan kecelakaan yang sebenarnya bisa dicegah.

Dari sisi sistemik,banjir di titik rawan tidak lepas dari kebutuhan perawatan drainase,normalisasi saluran,serta penataan ruang yang konsisten.Perawatan berkala sangat krusial karena sedimen dan sampah bisa mengurangi kapasitas saluran tanpa disadari.Perbaikan titik “bottle neck” seperti gorong-gorong sempit,pertemuan saluran yang tidak sejajar,atau inlet yang kurang juga berpengaruh besar.Makin cepat air masuk ke jaringan drainase,makin kecil peluang genangan bertahan.

Selain itu,kota perlu mendorong solusi berbasis resapan dan penahan limpasan,misalnya sumur resapan di area yang memungkinkan,ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai area tampungan sementara,serta desain trotoar dan bahu jalan yang membantu aliran air masuk ke saluran dengan aman.Bagi lingkungan permukiman,edukasi pengelolaan sampah dan disiplin tidak membuang sampah ke selokan sering menjadi pembeda antara genangan singkat dan genangan berulang.

Pada akhirnya,hujan berjam-jam adalah pemicu yang wajar di musim tertentu,tetapi dampaknya bisa ditekan jika risiko di titik rawan dikelola dengan konsisten.Warga dapat memperkuat kesiapsiagaan dari hal kecil di sekitar rumah,sementara pengelolaan kota berfokus pada kapasitas drainase,perawatan rutin,dan solusi resapan yang relevan.Ketika keduanya berjalan beriringan,genangan yang biasanya “langganan” akan lebih cepat surut,aktivitas warga lebih aman,dan kerugian bisa diminimalkan.

Read More